TKB90: 98.73%

4 Perilaku Belanja Gen Z yang Peritel Mesti Pahami

July 15th, 2020

Setiap generasi, mulai dari Baby Boomer, X, Y (Milenial), dan Z (Zoomer) punya habit sendiri soal belanja. Penting bagi peritel untuk bersifat terbuka dan kembali belajar untuk memahami kebiasaan belanja tiap generasi. Kali ini EmpatKali seperti apa perilaku belanja Gen Z.

Siapa itu Gen Z

Gen Z ialah mereka yang lahir pada rentang 1995-2010. Keberadaan Gen Z sekarang ini mulai diperhitungkan mengingat generasi pertama Gen Z yang lahir sekitar tahun 95-an, di tahun 2020 ini, usia mereka rata-rata ada di angka 24-25.

Usia tersebut adalah dimana mereka telah menyelesaikan studi formal, dan sekarang lagi merasakan dunia kerja level entry.

Artinya para Gen Z sudah punya penghasilan sendiri, sudah bisa belanja ini beli itu. Dan kedepannya seiring berjalannya waktu diikuti pertambahan usia generasi diatasnya, Gen Z akan menjelma sebagai penopang aktivitas ekonomi negara berbarengan dengan Gen X (Milenial).

Berikut adalah beberapa perilaku belanja Gen Z yang EmpatKali rangkum dari berbagai studi :

4 Perilaku Belanja Gen Z

1. Gila internet dan sosial media

Berdasarkan laporan yang disusun oleh IBM, 5-7 jam adalah rata-rata waktu yang Gen Z habiskan setiap harinya main internet melalui smartphone atau laptop.

Yang menjadi responden di penelitian tersebut adalah para Gen Z asal Amerika, tapi data ini bisa kita jadikan acuan mengingat perilaku Gen Z di Indonesia (khususnya di kota-kota) mirip dengan para Gen Z di Amerika sana — tak bisa lepas dari smartphone, internet, dan sosial media.

Peritel harus menyadari perubahan lanskap ini dan bersikap terbuka mengikuti perubahaan yang ada. Pada era generasi milenial dulu, eksekusi marketing yang mengandalkan iklan TV, majalah, flyer, atau brosur mungkin efektif.

Sekarang totally mainnya di internet. Standar marketing yang efektif saat ini adalah perpaduan yang inovatif antara digital marketing dan content creating. Peritel sebaiknya fokus pada dua hal tersebut jika ingin memenangkan hati Gen Z.

2. Toko offline akan kembali naik

Mudah untuk menyimpulkan Gen Z lebih senang belanja online mengingat keseharian mereka yang tidak lepas dari  internet. Tapi penelitian yang A.T Kearney lakukan mematahkan anggapan tersebuu.

Mayoritas Gen Z yang mengisi survey tentang “belanja online atau di toko” ternyata lebih memilih yang disebutkan kedua (73%)!

Mengapa Gen Z yang padahal tech-savvy ini lebih prefer belanja di toko daripada online? Karena Gen Z menganggap bahwa belanja itu sama halnya dengan refreshing, harus dilakukan secara santai dan interaktif (bisa lihat sentuh barang langsung).

Peritel yang sudah ketok palu tidak akan membuat toko offline karena merasa sudah sukses di area online-nya mesti meninjau kembali keputusannya itu. Gen Z menyukai belanja langsung di toko karena mereka cari pengalaman disini, karena bagi mereka, belanja = pengalaman.

3. Peran influencer marketing

Usia 20an adalah masa pencarian jati diri. Suatu proses untuk menemukan jati diri adalah menjadikan orang lain sebagai panutan. Keberadaan selebgram atau influencer yang saat ini banyak bertebaran di instagram adalah bukti jelas  bahwa Gen Z masih bergantung dengan sosok orang lain untuk menemukan jati diri.

Pasar melihat peluang ini dan memanfaatkan influencer sebagai brand ambassador guna menarik hati Gen Z. Berdasarkan penelitian yang tirto.id lakukan, keputusan belanja Gen Z dipengaruhi juga oleh sales pitch dari para influencer.

Gen Z belanja suatu produk karena influencer panutannya memakai produk tersebut. Contoh paling terkenalnya mungkin kasus jaket bomber hijau presiden Jokowi.

4. Harga

Survei dari Business Insider membuat temuan terkait beberapa faktor yang memengaruhi Gen Z mengambil keputusan belanja terhadap suatu produk. Fktor harga ada di urutan nomor 1.

Generasi pertama Gen Z yang saat ini berusia 22-25 tahun yang mayoritas masih berada di level junior dalam karir-pekerjaannya, jelas sekali belum bisa bicara banyak soal penghasilan yang ujung-ujungnya, mempengaruhi daya beli mereka.

Peritel sudah semestinya memahami kondisi daya beli Gen Z dan mendukung mereka dengan mengeluarkan produk-produk low price, tapi tanpa mengorbankan aspek kualitas sama sekali. Gen Z suka barang murah tapi tidak murahan secara kualitas.

EmpatKali adalah layanan cicilan online tanpa kartu kredit dan tanpa bunga selamanya.

Pengguna bisa beli produk di ratusan partner merchant kami, dan bayar empat kali, 25% dulu di awal, 75% sisanya dengan skema cicilan per dua minggu atau per bulan.

Penasaran mau cobain aplikasi paylater EmpatKali? Download aplikasinya sekarang di Google Play atau App Store.

Atau mungkin kamu seorang pelaku bisnis dan ingin menambahkan EmpatKali guna meningkatkan penjualan? Kamu bisa kunjungi halaman ini