TKB90: 98.73%

New Normal, Ritel Sudah Siapkan SOP Protokol Kesehatan?

May 21st, 2020

Istilah new normal mulai menggema setelah sudah lebih dari dua bulan virus Corona Covid-19 masuk ke Indonesia. Sejak WHO menetapkan status pandemi untuk virus ini, kebijakan lockdown dilakukan sebagian besar negara dunia supaya laju penyebaran virus melambat, berhenti, dan hilang. Namun kita menghadapi dilema juga utamanya dari sisi ekonomi, khususnya ritel, yang menanggung dampak berat akibat penurunan ekonomi ini

Kebangkrutan siap menyambut bila kebijakan penutupan berskala besar ini terus berlanjut. Kemarin Pesiden Jokowi sempat mengeluarkan pernyataan bahwa virus Corona tidak akan pergi dan kita harus mulai membiasakan diri hidup berdampingan dengannya.

Apa itu New Normal?

New normal berarti masyarakat akan kembali hidup seperti sedia kala seperti halnya sebelum pandemi terjadi, tetapi, yang menjadi new disini adalah pengedepanan protokol kesehatan di semua lini kehidupan.

Sekolah, Toko, Pariwisata, Hibuaran, semuanya akan kembali beroperasi tetapi dalam segi operasional, mereka wajib menaati ketentuan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah setempat.

New normal bisa dibilang adalah jalan tengah antara pilihan sulit nyawa atau ekonomi yang selama ini bikin pusing.

Ritel Sudah Siap Menghadapi New Normal?

Pembukaan kembali kegiatan ekonomi oleh pemerintah secara bertahap mulai bulan Juni besok memberikan nafas lega bari para ritel.

Operasional (dan ekonomi) bisnis yang saat ini tersendat-sendat akhirnya ada jalan keluarnya juga. Setidaknya Anda dapat kepastian bahwa bulan depan bisnis akan berjalan lebih lancar.

Namun operasional toko yang Anda lakukan nanti tidak akan sama dengan gaya operasional toko sebelum pandemi terjadi.

Anda Harus Merancang Protokol Kesehatan Sendiri, yang Lebih Ketat

Restauran di Thailand adalah contoh respon pebisnis dalam menghadapi tuntutan New normal ini. Bisa Anda lihat di gambar, di setiap meja tempat pengunjung makan, terdapat plastik besar yang bediri diantara dua orang yang saling bertatapan. Kelihatan konyol, tapi efektif untuk mencegah virus untuk lalu lalang secara bebas yang berpotensi masuk ke tubuh seseorang.

Poinnya disini adalah untuk membangun citra kepada Konsumer bahwa brand Anda aware dan care dengan musibah Covid-19 ini.

Baca juga: Pentingnya Konten Penyejuk di Tengah Pandemi Corona

Konsumer harus merasa terjamin dalam hal keamanan kesehatan atau higenis saat mereka berkunjung ke toko Anda selama fase new normal ini.

Contohnya mungkin Anda bisa mengatur limit jumlah orang yang berada di toko di waktu yang bersamaan. Atau mewajibkan pengunjung memakai masker, dan membuat desain antrian yang baru yang mengutamakan #jagajarak.

Umumkan di Seluruh Channel Komunikasi Brand Anda

Belum cukup jika hanya merancang strategi dan kemudian mengeksekusinya secara diam-diam. Wabah virus Corona ini adalah masalah bersama dan dibutuhkan niat dan aksi bersama juga agar situasi cepat pulih.

Manfaatkan seluruh kanal marcomm (marketing communicationsbrand Anda untuk menyampaikan pesan prosedural kesehatan yang wajib konsumer ikuti saat mereka datang ke toko.

Baca juga: Rahasia Dibalik Email Marketing yang Menarik

Anjurkan juga pada mereka untuk belanja secara online #dirumahaja saja jika mereka merasa segan untuk mematuhi prosedural kesehatan yang Anda tetapkan.

Latih Staff Terkait SOP (Kesehatan) yang Baru

Para staff yang bekerja di toko adalah ujung tombak bisnis Anda. Mereka lah yang melakukan interaksi langsung dengan pembeli, mereka adalah wujud dari brand image yang pembeli lihat.

Pihak yang mengeksekusi protokol kesehatan yang Anda buat adalah para Staff. Artinya Anda sebagai pimpinan harus mengedukasi dan memberikan pelatihan khusus kepada staff terlebih dahulu agar mereka paham mengapa ini sangat penting, baik bagi kesehatan mereka sendiri dan calon pembeli yang datang, dan juga bagi bisnis.

Baca juga: Cara Memberhentikan Karyawan Tanpa Drama

Anda bisa membuat dokumen guideline yang berisi panduan #jagajarak, frekuensi pemberishan barang-barang display, bagaimana menangani pengunjung yang bersikap sembrono, dan penanganan terkait kesehatan dan gejala.