TKB90: 98.73%

Mengenal Kostum Plague Doctor (Dokter Wabah) yang Creepy

Fashion & Style,
April 30th, 2020

Pandemi virus Corona yang sedang menyelimuti dunia saat ini bukanlah satu-satunya wabah yang pernah mengganggu kita. Sejak ribuan tahun, manusia telah melalui berbagai wabah penyakit yang berasal dari virus atau bakteri. Dan kalau bicara soal satu wabah yang paling mengerikan dan mematikan sepanjang sejarah, wabah maut hitam atau black death adalah juaranya.

Di awal abad ke 14, tepatnya sekitar tahun 1300-an, kapal pedagang Italia yang pulang ke daratan Eropa membawa bakteri yersinia pestis yang menginfeksi tikus-tikus kapal. Bakteri menular ke manusia dan dengan cepat menjadi epidemi, pandemi, dan melenyapkan sekitar 60% populasi manusia Eropa saat itu.

Selain terkenal karena jumlah korban tewasnya yang masif, wabah maut hitam juga tak lepas dari sosok tenaga medis yang menjadi garda terdepan merawat korban penyakit pes akibat bakteri yersinia pestis tersebut.

Mereka adalah para plague doctor atau dokter wabah yang berpenampilan menyeramkan. Di artikel ini, kita akan secara khusus mengulas dari sisi penampilan tentang mengapa mereka mengenakan kostum yang eksentrik tersebut.

Kostum Dirancang Pada Abad Ke-17

Selang tiga abad paska wabah maut hitam yang nyaris menghancurkan Eropa, masyarakat Eropa belum bisa tenang karena wabah masih mengancam. Menyikapi hal ini, seorang dokter asal Perancis di awal abad ke-17 merancang kostum khusus untuk para dokter menangani korban wabah.

Kostum dominan berwarna gelap dengan bahan kulit yang mendominasi dan yang menjadi terkenal adalah topeng yang menyerupai paruh burung. Kostum dirancang untuk satu tujuan, melindungi pemakainya (dokter) dari paparan “udara busuk” yang saat itu dipercaya sebagai sumber infeksi.

Kostum didominasi bahan kulit dari atas sampai bawah

Melihat dari desainnya yang gelap dan agak creepy, kostum ini lebih cocok untuk pesta haloween daripada untuk kegiatan medis. Namun sang perancang pastinya tak asal-asalan mendesain kostum ini, semuanya pasti berlandaskan alasan logis mengapa desainnya jadi seperti ini.

  • Topi kulit: Ada alasan tertentu mengapa bahan kulit mendominasi kostum ini. Mereka percaya bahan kulit yang tebal ampuh menahan udara. Coba kamu pakai jaket kulit dan jalan-jalan keluar, tubuh kamu akan mandi keringat dan lembab karena udara yang tertahan. Topi kulit juga merupakan lambang profesi dokter saat itu.
  • Paruh burung Keberadaan paruh burung juga bukan tanpa alasan. Di lubang paruh inilah mereka meletakan berbagai daun-daun herbal seperti mawar/mint yang menciptakan aroma wangi yang dipercaya mampu melawan dan mengusir “udara busuk” yang masuk dari luar.
  • Tongkat kayuMeski kedua tangan sudah terbalut sarung tangan kulit, dokter mengandalkan tongkat kayu supaya terhindar dari kontak langsung dengan orang lain
  • Jubah panjangDokter wabah mengenakan jubah yang panjangnya hingga menyentuh mata kaki. Alasannya jelas supaya seluruh permukaan kulit tak nampak dan bersentuhan dengan udara dan tertutup rapat.
  • Sepatu kulit: Jika ujung kepala terlindungi oleh kulit, maka ujung kaki juga. Sepatu berbahan kulit bertekstur kokoh, sehingga ampuh melindungi kulit kaki dari paparan udara luar.

Kostum Dokter Wabah: Cikal Bakal APD (Alat Pelindung Diri) Saat Ini?

Melihat APD yang sekarang digunakan para dokter dalam memerangi wabah virus Corona, sebenarnya konsepnya tak beda jauh dengan apa yang para dokter wabah dulu lakukan. Mereka sama-sama menutup seluruh area tubuh agar tidak tertular.

Kita lebih beruntung karena dukungan ilmu kedokteran yang sudah canggih sehingga bisa menyesuaikan desain kostum pada keefektivitasannya dalam menghadang virus atau bakteri yang mencoba memasuki tubuh.