TKB90: 98.73%

Harga Masker Meroket Akibat Corona, Penjual Jahat?

March 24th, 2020

Kian hari, kabar tentang virus Corona COVID-19 di Indonesia makin bikin cemas. Saat ini sudah 686 orang yang tersebar di seluruh Indonesia terbukti positif virus Corona.

Jakarta sendiri memegang rekor tertinggi dengan 427 kasus positif. Dan jumlah ini akan terus menanjak hingga mencapai puncaknya yang diprediksi terjadi pada pertengahan April nanti.

Itu pun kalau pemerintah cekatan dalam menanganinya.

Kali ini yang akan kita bahas adalah sebuah benda yang saat ini bagaikan oase di padang pasir di tengah pandemi ini, tak lain dan tak bukan, masker.

Penyebaran virus Corona yang secepat kilat ini bikin kita semua kelimpungan.

Pihak medis menyimpulkan penularan virus ini sama seperti penularan penyakit flu biasa, yakni lewat percikan bersin dan batuk si orang terjangkit.

Di tambah, virus Corona ini adalah virus jenis baru (SARS-CoV-2) yang belum ada obatnya.

Kepanikan pun tak terbendung. Masyarakat jadi kesetanan dalam berburu masker demi melindungi diri dari musuh yang tak terlihat ini.

Alhasil, harga masker di pasaran naik dalam level yang ekstrem.

Bagaimana bisa?

Simpel. Teori Alfred Marshall. Supply and demand. Permintaan naik, harga naik.

Belum puas sama jawabannya? Kami juga.

Apakah penjual masker itu jahat karena pasang harga selangit?

Belum tentu juga

Jadi siapa yang salah disini?

Tidak ada yang salah baik penjual maupun pembeli. Keduanya hanya mengikuti insting manusiawinya. Biar kami jelaskan.

Pada sisi penjual, kolam susu sedang terbentang dihadapan mereka dan amat sulit rasanya untuk tidak menggayungnya.

Setiap penjual pasti paham ini karena penjual itu basically cari untung. Mereka akan mengkhianati insting jika menolak memanfaatkan momentum ini. Dan perasaan telah mengkhianati insting itu sulit diterima.

Pada sisi pembeli, ancaman nyata yang dapat merenggut nyawa mereka ada di depan mata. Dan masker adalah salah satu benda yang dapat melindungi mereka dari ancaman itu.

Karena saat ini nyawa jadi taruhannya, maka berapapun harga maskernya dijabanin.

Jadi, walaupun harga masker tak masuk akal, tetap aja pasti ada yang beli. Karena ini soal hidup mati. Ini soal mengikuti insting untuk bertahan hidup.

Lagipula ini juga pernah dibahas oleh Abraham Maslow melalui teori piramidanya.

Baca juga: Babak Belur Ritel di Hantam Corona

Akibat virus Corona ini, masyarakat di dunia dipaksa balik lagi ke bagian bawah piramida tersebut.

Si penjual tentu juga termasuk yang berada di golongan bawah. Namun mereka juga melihat kesempatan untuk berdiri di puncak piramida di situasi yang menguntungkan ini.

Dan upaya untuk menanjak piramdia adalah keharusan setiap orang.