TKB90: 98.73%

Babak Belur Ritel di Hantam Corona

March 20th, 2020

Rasanya baru sebulan yang lalu kita melihat berita tentang bagaimana mencekammnya situasi di provinsi Hubei, China, akibat virus Corona COVID-19 yang mengamuk.

Sebulan yang lalu juga kita berpikir musibah tersebut sepertinya tidak akan mampir kesini, kalaupun mampir, tidak akan separah yang China alami. Satu bulan berselang, kita berubah pikiran. Nampaknya Virus Corona ini tidak pandang bulu.

Semuanya kebagian, sama rata sama rasa. Titik.

Semuanya babak belur karena virus Corona ini. Tapi kita tidak akan membahas semuanya disini. Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana kuatnya hantaman pandemi virus Corona ini secara khusus terhadap industri ritel.

Tidak hanya di Indonesia tapi mencakup seluruh dunia. Yang akan menjadi fokus kita adalah bagaimana perilaku konsumen di tengah kekacauan ini. Apa prioritas mereka saat ini? Apa yang harus kita lakukan sebagai peritel menyikapi situasi genting ini?

Penelitian dari Nielsen

Nielsen merilis data prediksi tentang perilaku konsumen selama fase penyebaran virus Corona meliputi tahapan awal, puncak pandemi, hingga berakhirnya pandemi. Pada tiap-tiap fase, Nielsen menyajikan data yang mendukung terkait perilaku konsumen dan keputusan belanja mereka.

Walaupun data diperoleh dari konsumer di Amerika sana, tapi data ini bisa menjadi patokan mengingat seluruh warga dunia saat ini sedang berjuang melawan musuh yang sama, virus Corona COVID-19.
Babak Belur Ritel di Hantam Corona
Saat ini di Indonesia, bisa dibilang kita sedang berada di tahap 3 (Pantry preparation) dan beberapa daerah seperti Jakara ada di tahap 4 (Quarantined living preparation). Lonjakan pengunjung ritel  sempat memuncak beberapa waktu lalu, setelah pengumuman kasus pertama positif Corona di Indonesia.

Tetapi sayangnya hanya satu jenis ritel saja yang penuh disesaki masyarakat, yaitu mereka yang menjual produk kebutuhan hidup seperti makanan dan produk kesehatan lainnya. Ritel lainnya seperti fashion, atau kebutuhan sekunder lainnya saat ini bukanlah urgensi bagi masyarakat.

China butuh waktu sekitar 3 bulan untuk pulih sejak virus Corona ini mulai menyebar pada Januari dan memuncak pada sebulan belakangan. Itu pun 3 bulan karena penanganan yang tepat dari pemerintahnya.

Indonesia saat ini belum masuk ke masa puncak pandemi. Dan diprediksi akan terjadi April mendatang. Indonesia sekarang mirip dengan China di Januari 2020.
Babak Belur Ritel di Hantam Corona

Berat dikatakan bahwa kemungkinan selama 1-2 bulan kedepan, minat masyarakat terhadap produk non kebutuhan hidup dan kesehatan akan sangat rendah. Mereka akan fokus pada produk yang menjunjang kebutuhan survival mereka.

Apa yang harus dilakukan peritel non kebutuhan hidup

Dalam 1-2 bulan ke depan (harapannya), semuanya akan bergantung kepada internet. Warga Jakarta akan stay di huniannya masing-masing sampai pandemi mereda.

Mereka akan memesan makan lewat internet, beli produk kebutuhan hidup lewat internet, dan tentunya ada juga yang beli produk non kebutuhan hidup seperti fashion atau barang elektronik melalui internet juga.

Internet akan memainkan peran besar disini. Himbauan social distancing akan membuat mereka tetap di rumahnya sembari menatap layar gadgetnya sepanjang hari! Apakah Anda paham dengan yang kami maksud disini?

Maksdunya peritel harus tetap aktif di dunia maya. Peritel harus tetap menunjukan eksistensinya dan tetap berkontribusi di tengah kekacauan ini. Bukan berarti omset penjualan peritel non kebutuhan hidup akan anjlok sepenuhnya menjadi 0%.

Pastinya tidak semua orang akan benar-benar hanya beli produk kebutuhan hidup saja. Semua orang mengerti musibah ini pasti ada ujungnya. Terlebih setelah melihat China yang sekarang sudah hampir pulih siap kembali ke kehidupan normal.
Babak Belur Ritel di Hantam Corona
Selama momen yang kelam ini, peritel non kebutuhan pokok sebaiknya fokus juga pada branding dengan memberikan konten yang valuable untuk para konsumennya. Penjualan juga harus jalan dan kami paham itu.

Toko fisik mungkin akan ‘hibernasi’ dulu beberapa bulan kedepan. Alternatifnya, peritel harus bisa memanfaatkan kekuatan penuh Internet dan segala aspek yang mendukungnya.

Ini mungkin saatnya me-revamp situs ecommerce Anda agar lebih mantap saat situasi sudah pulih kembali. Atau mungkin perbaikan-perbaikan lainnya.

Sebagai penutup, Joe Polish seorang marketing expert dari Phoenix berkata bahwa ada dua jenis bisnis. Transaction business dan Relationship business. Yang disebutkan terakhir adalah kunci sukses bisnis apapaun.

Dan di tengah pandemi Corona ini, kesempatan Anda untuk membangun hubungan emosional dengan konsumen Anda terbuka lebar.