TKB90: 98.73%

5 Pemicu Psikologis Dibalik Keputusan Belanja Konsumen

March 13th, 2020

Strategi marketing yang kuat akan kurang lengkap jika tidak dibarengi dengan pemahaman tentang “apa yang ada di dalam pikiran” prospek konsumen Anda.
Konsumen adalah raja. Konsep ini terbukti ampuh dan Anda sebagai business owner pastinya sudah paham bahwa segala keputusan bisnis yang Anda buat harus selalu berdasarkan apa yang konsumen lihat, dengar, dan rasa.
Bicara tentang perilaku konsumen, berarti bicara tentang psikologi. Dan kami rasa sangat penting bagi Anda untuk memahami pemicu-pemicu psikologis dibalik keputusan belanja yang dilakukan konsumen Anda.
Berikut beberapa pemicu psikologis yang pada umumnya terjadi pada konsumen:
Baca juga: Banyak Teman Banyak Rejeki dengan Program Referral EMPATKALI
 
1. Konsumen Menghargai Kejujuran Anda

Kejujuran: Pemicu Psikologis
Anda sebagai pebisnis mungkin pernah mencoba untuk menyembunyikan suatu hal dengan harapan konsumen Anda tidak akan menemukan kelemahan dari produk yang Anda jual.
Jika Anda masih melakukan praktik ini hingga sekarang, hentikan sekarang juga!
Konsumen Anda itu cerdas. Sangat cerdas. Mereka lebih cerdas dari yang Anda bayangkan.
Berikan informasi tentang produk yang Anda tawarkan sepenuhnya tanpa menutupi bagian-bagian tertentu. Yang bahaya adalah apabila konsumen mengetahui apa yang Anda tutupi. Ini sangat fatal bagi bisnis Anda.
Konsumen tidak percaya terhadap Anda. Mereka akan mempengaruhi konsumen lainnya sehingga pada akhirnya, kredibilitas anda hancur lebur.
 
2. Konsumen Ingin Jaminan Kepuasan

Pemicu Psikologis: Jaminan Kepuasan
“Beli celana jeans ini, jika dalam satu bulan warnanya pudar, kami kembalikan uang anda penuh ditambah bunga 10%”
Setelah membaca tulisan diatas, konsumen mungkin berpkir bahwa penjual sangat nekat memberikan statement tersebut. Tapi inilah sebenarnya sasaran Anda.
Konsumen berpikir Anda berani mengambil risiko tinggi. Sehingga di alam bawah sadar mereka akan tercipta suatu pemahaman bahwa produk Anda nampaknya memang yang terbaik.
Tapi ini tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan kualitas produk yang Anda jual. Keduanya harus mendukung satu sama lain.
 
3. Konsumen Suka Hal yang Familiar

Familiar: Pemicu Psikologis
Anda berniat meluncurkan suatu produk baru. Suatu produk yang benar-benar baru yang belum pernah digunakan konsumen manapun. Anda berpikir ini akan menjadi terobosan baru yang menggemparkan dunia dan diikuti dengan kesuksesan dan keuntungan yang besar.
Bisa ya bisa tidak.
Masalahnya, konsumen Anda tidak suka dibuat bingung. Kuncinya ada pada bagaimana strategi penetrasi yang anda pakai untuk memperkenalkan inovasi Anda pada masyarakat.
Anda bisa mensiasatinya dengan menghubungkan ide Anda dengan hal-hal yang familiar bagi konsumen. Jelaskan pada mereka dengan cara paling mudah dan familiar yang dapat mereka terima.
 
4. Kredibilitas
Kredibilitas: Pemicu Psikologis
Sebelumnya kita telah bicara soal kredibilitas dalam kaitannya dengan kejujuran Anda sebagai pebisnis. Namun untuk yang satu ini, cakupannya berbeda.
Ini adalah tentang bagaimana Anda meyakinkan konsumen Anda dengan narasi yang tepat untuk tiap produk yang Anda tawarkan.
Contohnya, Anda menjual celana chino dengan harga Rp 100.000 dimana peritel lainnya menjualnya dengan harga rata-rata Rp 175.000 – 250.000.
Disini Anda harus meyakinkan kepada calon pembeli mengapa harga yang Anda tawarkan lebih murah. Konsumen selalu menginginkan harga murah dengan kualitas tinggi.
Anda satu langkah lebih maju dari peritel lainnya disini. Nah sekarang bagaimana cara Anda meyakinkan konsumen bahwa produk Anda paling tepat.
 
5. Ego
Ego: Pemicu Psikologis
Perhatikan juga bahwa banyak konsumen yang beli suatu produk atau barang bukan karena fungsi yang ditawarkan. Mereka membelinya untuk menaikkan citra dirinya semata.
Walaupun kesannya ini ide yang licik, tetapi ini adalah fenomena yang dianggap normal dalam dunia marketing. Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Rolexatau Mercedes Benz adalah contoh yang ‘memanfaatkan’ sifat ego manusia
Banyak konsumen yang menggunakan brand-brand diatas atas dasar sekedar ingin bergabung di komunitas konsumen-konsumen lainnya yang menggunakan produk serupa. Anda pastnyai sudah paham konsumen yang pakai Apple atau Rolex itu biasanya ‘bentukannya’ seperti apa bukan?
Baca juga: Seni Menjual Bisnis Anda 
 
Dengan memahami pemicu-pemicu psikologis dibalik keputusan belanja konsumen, Anda akan terkejut dengan banyaknya revisi yang Anda harus lakukan terhadap strategi marketing bisnis Anda.